Situs Cagar Budaya Komplek Pemakaman Bundo Kanduang Di Lunang Sebuah Bukti Sejarah Pernah Terjadi Di Sumatera Barat

Foto : Lukman Hakim

Kabar Pessel – Berbicara tentang Lunang sama halnya mengingat kisah perjalanan Bundo Kanduang seorang penguasa “Ratu” di Kerajaan Pagaruyung dalam pelariannya ke Lunang dari kejaran penguasa kerajaan Sungai Ngiang yakni Tiang Bungkuk.

Kisah yang diceritakan dalam kaba Cindua Mato ini merupakan salah satu histo­riografi tradisional Minangkabau dan mashur di ranah minang hingga wilayah nu­santara lainnya seperti Beng­kulu, Jambi dan negeri jiran Malaysia.

Dikisahkan saat terjadi huru-hara di Pagaruyung, Bundo Kanduang dan anak­nya Dang Tuangku beserta menantunya bernama Puti Bungsu menghilangdari istana lewat proses “mengirap ke langit”. Dan turun di wila­yah Lunang, Pesisir Selatan. Proses mengirapnya Bundo Kanduang itu merupakan cara yang ditempuhnya untuk menghindari bahaya akibat adanya serangan luar terhadap istana.

Dalam pengetahuan seja­rah masyarakat di Lunang dan malahan Sumatera Barat pa­da umumnya, bahwa Bundo Kanduang beserta pengi­kut­nya lari dan bersembunyi di Lunang. Di Lunang pulalah ia kemudian mendirikan kem­bali istana yang dikenal de­ngan Rumah Gadang Mande Rubiah dan nama Bundo Kanduang pun diganti dengan gelar Mande Rubiah, status gelar mande rubiah sekarang dijabat oleh seorang perem­puan bernama Rakinah (52) adalah pewaris ketujuh.

Sebagai tempat persem­bunyian dan bersemayamnya tokoh penting dalam kaba Cindua Mato, Lunang menyim­pan cerita yang masih banyak belum diketahui orang. Rumah Gadang yang telah berdiri ratusan tahun silam tersebut dipercaya seba­gai istana yang dibangun oleh Bundo Kanduang atau Mande Rubiah pertama, maka dise­butlah menjadi Rumah Ga­dang Mande Rubiah. Rumah gadang Mande Rubiah terle­tak di Kampung Dalam, seba­gai pusat “alam” Lunang, merupakan refleksi alam ber­fikir dan kosmologi Lu­nang.

Kawasan Kampung Da­lam, Lunang memiliki makna simbolis, menempatkan Man­­de Rubiah sebagai tokoh sentral dan Kampung Dalam sebagai tempat yang “sakral” yang menjaga keaslian tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun di Lunang. 

Eksistensi Mande Rubiah di dalam masyarakat Lunang jelas tidak dapat diabaikan karena dianggap sebagi tokoh penting dalam menjaga ke­seimbangan “simbolis” kehidupan masyarakat Lunang.

Terlepas dari benar atau tidaknya dari berita kaba tersebut dalam penelitian sejarah oleh tim PSH Unand dan Museum Negeri Aditya­warman (Herwandi, dkk, 2003: 5) menyatakan bahwa keberadaan Mande Rubiah di Lunang telah mengisi dina­mika kehidupan masyarakat Lunang. Ia tampil bukan da­lam ruang yang hampa, tetapi berada dalam kontek masya­rakat yang berdinamika.

Alam dan Mitologi Sejarah Nama Lunang

Masyarakat Lunang mem­percayai bahwa Lunang merupakan salah satu daerah pa­ling tua di permuakaan bumi. Nama Lunang berasal dari kata menang.

Bagaimana de­mikian? Ta’kala banjir besar nabi Nuh a.s yang meneng­gelamkan hampir seluruh isi bumi ini, di pulau Sumatera terdapat tiga tempat pada masa itu muncul ke per­mu­kaan, yaitu pertama puncak gunung Marapi di Tanah Da­tar, kedua bukit Siguntang-guntang di Palembang dan ketiga Tanah Lunang di Pesi­sir Selatan. Tempat terakhir inilah yang kemudian di­anggap sebagai tempat pilihan tuhan, disebut “tanah me­nang” karena daerah ini meru­pakan dataran rendah namun muncul ke permukaan.

Baca Juga :  Tradisi Manjalang Rumah Gadang Mande Rubiah Lunang

Penamaannya diberikan pada masa kedatangan nenek moyang orang Minangkabau yakni Putra raja Iskandar Zulkarnain yang bernama Sri Maharajo Dirajo.

Disaat itu gunung merapi masih sebesar telur Itik. Dalam pelaya­rannya, Sri Maharajo Dirajo putra raja Iskandar Zul­kar­nain menemukan daratan yang kemudian mereka beri nama tanah menang “itu tanah kemenangan kita,” kata mere­ka. Tanah menang ini lama kelamaan berubah menjadi Lunang.

Dari pemikiran di atas, Lunang dianggap salah satu negeri paling tua di Minang­kabau. Seperti telah ditulis dalam buku Yulizal Yunus (2002) berjudul Kesultanan Inderapura dan Mandeh Ru­biah di Lunang: Spirit Sejarah dari Kerajaan Bahari Hingga Semangat Melayu Dunia, bah­wa Lunang serta wilayah kulturnya Inderapura adalah salah satu negeri tertua di Minangkabau.

Ini menandakan bahwa, masyarakat Lunang membe­rikan nama pada negerinya ke­tika Islam telah berkem­bang di daerah ini. Seperti wilayah lainnya di Minang­ka­bau yang banyak mengait­kan asal-usul nama daerahnya be­rawal dari banjir besar nabi Nuh a.s.

Artinya, pada ratusan ta­hun silam, saat islam telah menerangi iman manusia suma­tera terutama di Minangka­bau, historiografi tradisio­nal mulai berkembang terma­suk dalam pengetahuannya ten­tang asal-usul suatu da­erah.

Nama besar raja Iskandar Zulkarnain pun tak luput menjadi awal sebuah kisah, sehingga anggapan bahwa mereka merupakan ketu­runan dari seorang raja termasyur ini hadir sebagai pem­buka. Seperti dalam Tambo Alam Minangkabau, bahwa ta’kala gunung Marapi masih sebesar telur Itik berlabuhlah Sri Maharajo Dirajo anak raja Iskandar Zulkarnain dari pelayarannya yang jauh yakni dari benua Rum. 

Kemudian rombongan tersebut turun ke lereng gunung merapi dan membuat sebuah pemukiman baru yang disebut Nagari Pariangan, dikenal juga nagari tertua di Minangkabau dan dipercaya sebagai tempat asal-usul nenek moyang orang Minangkabau.

Raja Iskandar Zulkarnain ayah Sri Maharajo Dirajo yang dimaksud sangat dimung­kinkan adalah raja agung yang diceritakan dalam Alquran (QS. Al-Kahfi: 83-98), seorang raja yang menguasai wilayah dari ujung timur hingga ujung barat. Selain itu raja Iskandar Zulkarnain juga dimaksudkan Alexander the Great (Alexander yang agung) raja dari Makedonia yang menaklukan hampir separuh dunia, hidup pada abad ke-3 sebelum masehi.

Selain itu, barangkali juga dipengaruhi oleh agama yang masuk sebelum Islam, yakni Hindu-Budha. Gelar maharaja sudah dikenal sebelum Islam masuk ke Indonesia. Dalam bahasa hindi “Ma­haraj” yang berarti raja agung adalah gelar pada penguasa Hindu. Seperti gelar yang dipakai oleh Maharaja Asoka di abad ke-1 SM. Gelar sepa­dan untuk perempuan adalah maharani yang biasanya dipe­gang oleh istri maharaja.

Memang terkadang harus dimaklumi bahwa agama Hindu, Budha dan Islam terjadi singkronisasi sehingga melahirkan penulisan sejarah tradisional, seperti Babad Tanah Jawi, Tambo, Kaba dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Mengenal Sosok Mande Rakinah Generasi Ke VII Mandeh Rubiah

Selanjutnya penulisan tradisonal seperti yang dikemukakan di atas, masayarakat belum bisa memisahkan dirinya dengan alam dan kejadian-kejadian yang terjadi dari alam.

Pemikiran di atas menu­rut sebagian besar orang ada­lah mitologis dan legenda, namun sebagian orang masih menjadi ingatan dan masih dipercaya secara tegar. Seperti halnya alam pemikiran masyarakat Lunang yang bera­da di Kecamatan Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan. Terletak di selatan kota Pa­dang, berjarak kurang lebih 230 km dari kota Padang dan lebih kurang 150 km dari Painan, ibu kota Pesisir Sela­tan. 20 km lagi arah ke selatan dari Lunang, sudah meru­pakan perbatasan Provinsi Sumatera Barat dengan Pro­vinsi Bengkulu.

Pandangan bahwa Lunang salah satu daerah paling tua tidak seharusnya dicap salah atau tidak benar. Mitos tidak untuk diukur dan dijelaskan dengan ukuran-ukuran ke­be­naran rasional manusia mo­dern, melainkan untuk dime­ngerti dan dihayati maknanya.

Pertanyaannya bukan tentang apakah cerita asal usul terse­but benar secara faktual atau sebaliknya tidak masuk akal, melainkan mengapa nenek moyang mereka menciptakan mi­tos demikian? Seperti hal­nya Lunang telah ada sejak banjir besar nabi Nuh a.s.

Pada tahun 2002, kabu­pa­ten Pesisir Selatan menjadi tu­an rumah PORDA ke VIII di Provinsi Sumatera Barat. Ajang pertandingan bidang olah raga yang dilaksanakan se­­kali dalam dua tahun terse­but biasanya dibuka dengan me­­nyulut api PORDA pada rang­­kaian pembukaan acaranya. 

Pelaksanaan api PORDA se­be­lumnya di Sumatera Barat, ini diambil langsung dari Pa­­ringan sebuah nagari yang di­per­caya pa­ling tua di Mi­nang­­kabau yang ter­­letak di lereng gu­nung Marapi di Ka­­­bu­pa­ten Ta­nah Da­­tar.

Beda hal­nya pa­da pe­lak­sa­nan POR­DA ke VIII Provin­si Su­matera Ba­rat yang di­lak­sanakan di Kabupaten Pe­sisir Selatan. Se­lain api PORDA yang diambil dari Nagari Pariangan, Tanah Datar, api PORDA juga diambil langsung dari Lunang. Yakni dari Rumah Gadang Mande Ru­biah, yang disulut langsung oleh pewaris rumah gadang yakni Mande Rubiah.

Ini lebih karena Lunang dipercaya salah satu nagari paling tua di Minangkabau. Hingga menimbulkan pro dan kontra diberbagai kala­ngan. Hingga ada yang berpen­dapat bahwa batalnya Gu­bernur Sumatera Barat kala itu Zainal Bakar untuk mem­buka acara PORDA ke VIII di Painan adalah karena ru­mor pro dan kontra ini.

Masa pemerintahan yang dipimpin oleh Bupati Darizal Basir (sekarang Anggota DPR­ RI) PORDA ke VIII berjalan dengan kidmat dan lancar sampai api dibawa ke kota Painan yang menempuh perjalanan dengan maraton oleh atlit-atlit putra Pesisir Selatan sejauh 150 km, acara dibuka oleh Sekretaris Da­erah Provinsi Sumatera Barat.

Momen ini disambut baik oleh masyarakat Minangkabau terutama masyarakat Pesisir Selatan. Pesisir Sela­tan telah mengukir sejarah ba­ru, legitimasi Lunang dan Inderapura sebagai salah satu negeri paling tua di Minang­kabau hadir kembali dalam realitas kekinian. Kerajaan Inderapura yang pernah jaya dari abad ke XVII sampai ke XVIII adalah wilayah yang memiliki kultur dan sejarah paling dekat dengan Lunang.

Baca Juga :  Pesisir Selatan Pada Masa Kemerdekaan Indonesia Tahun 1945

Kebesaran nama Inde­rapura pun merupakan kelanjutan dari sejarah Lunang. Di Lu­nang ini pernah bediri se­buah kerajaan bernama In­do­jati, nama Indojati ini kemu­dian berubah menjadi Indopuro dan selanjutnya menjadi kerajaan Inderapura.

Nama Indojati kemudian ingin di­angkat kembali oleh masya­rakat Inderapura, Tapan, Lu­nang dan Silaut sebagai nama calon Daerah Otonomi Baru (DOB) pemekaran dari kebu­paten Pesisir Selatan yakni Kabupaten Renah Indojati.

Hubungan Lunang dan Inderapura secara langsung dihubungkan oleh sungai be­sar Batang Lunang yang bermua­ra di Muaro Sakai Indera­pura. Inderapura yang terle­tak di tepi pantai menjadi kerajaan besar pada masa silam karena ter­hu­bung lang­sung de­ngan negeri Luar, seperti Persia, Arab, India, Cina maupun dengan Aceh.

Lunang Pada Masa Sekarang

Lunang adalah sebuah nagari adminstrasi, nama Lunang juga dijadikan nama kecamatan sejak tahun 2013 dan sekaligus dalam satu kera­patan adat yakni Kerapatan Adat Nagari Lunang.

Di Lu­nang terdapat rumah tua ber­bentuk rumah adat melayu yang dikenal dengan Rumah Gadang Mande Rubiah, ru­mah gadang ini merupakan salah satu situr cagar budaya di bawah naungan Balai Pe­les­tarian Cagar Budaya (BP­CB) Batusangkar.

Pada tanggal 8 Maret 1980, Rumah Gadang Mande rubiah ini diresmikan men­jadi museum lokal di Suma­tera Barat oleh Bidang Permu­seuman, Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Dept. P & K Sumatera Barat, dengan nama Museum Mande Ru­biah, setelah sebelumnya dilakukan beberapa kali penelitian. Selanjutnya benda-benda koleksi peninggalan sejarah yang tersimpan rapi di dalam rumah gadang mande rubiah ini dipamerkan untuk khalayak umum.

Rumah Gadang Mande Rubiah menjadi ikon pariwisata sejarah di kabupaten Pesisir Selatan. Sebagai desti­nasi wisata sejarah di Pesisir Selatan, objek wisata rumah gadang Mande Rubiah ini dikunjungi lebih dari 13.000 pengunjung setiap tahunnya. Jumlah ini bahkan semakin meningkat dilihat dari buku tamu rumah gadang ini.

Objek wisata sejarah ke­bang­gan Kabupaten Pesisir Selatan ini pengelolaannya didukung juga oleh pemerintah daerah setempat. Seba­gaimana yang pernah penulis dengar langsung dari mantan Bupati Pesisir Selatan H. Nasrul Abit (Wakil Gubernur Sumbar sekarang) didalam kesempatan dengan semang­gatnya menyatakan bahwa “jika Tanah Datar memiliki Pagaruyung, Pesisir Selatan memiliki Lunang”.

Artinya wilayah darek yang memiliki daerah sentral yakni pagaru­yung maka harus seimbang dengan wilayah pesisir yang juga disebut wilayah rantau yakni Lunang. Nasrul Abit memiliki harapan besar hu­bu­ngan Pagaruyung dengan Lunang ter­jalin baik dan lebih istimewa se­ba­gai­mana sejarah pengetahuan masya­rakat yang ada di Minangkabau. 

Penulis :

ZULRAHMAN

(Mahasiswa Pascasarjana FIB Unand)

Tinggalkan Balasan